Cerita Anak Laki-laki dan Segenggam Kacang

Cerita Anak Laki-laki dan Segenggam Kacang Pada suatu hari di sebuah keluarga kecil, ada seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Sebagaimana adik kakak pada umumnya, mereka kadang tak akur dan tak mau mengalah satu sama lain. Mereka selalu ingin mendapatkan keinginanya lebih dari yang satunya. Ketika yang satu memiliki sesuatu, maka yang satu juga ingin memilikinya juga. Sifat iri dan serakah di miliki oleh mereka berdua.

Sang ibu tahu akan sifat buruk kedua anaknya. Tapi karena mereka masih kecil, sang ibu tak ingin memarahi mereka. Sang ibu mencari ide yang dapat menyampaikan pesan moral tentang jeleknya sifat egois dan tamak. Akhrnya ibu yang baik hati itu menemukan sebuah ide yang cukup brilian. Pada suatu hari, ibu itu pergi ke pasar. Dia membeli setoples kacang. Karena dia tahu, kedua anaknya sangat menyukai kacang.
Setelah sampai di rumah, dia memangggil kedua anaknya dan menunjukan setoples kacang yang dia bawa. Melihat kacang kesukaan mereka, kedua anak itu merasa senang sekali. Lalu muncul nita tamak dan serakahdi hati mereka untuk dapat memiliki kacang itu sendiri. Tapi sang ibu tahu akan hal itu. Oleh karena itu, sang ibu kemudian berkata. “ Ambilah kacang ini secara bergantian, dan ingat jangan rebutan”. Kata sang ibu.
 

Lalu sang ibu menyuruh anak pertama yang lebih tua untuk mengambil. Anak itu pun memasukan tanganya ke dalam toples kacang tadi. Karena ingin mendapatkan bagian yang banyak, dia menggenggam kacang itu sebanyak-banyaknya semampu yang dapat dia genggam. Tapi sial, ketika ingin mengeluarkan tanganya, tanganya tersangkut. Lubang toples yang kecil tak muat untuk genggaman tanganya yang cukup besar.
Anak itu tetap tak mau menyerah. Dia tetap memaksakan untuk menarik tanganya keluar. Tapi sial, karena dia menarik terlalu kuat, toples kacang itu ikut terpental dan pecah. Hingga semua kacang yang ada berserakan di lantai dan tak bisa lagi di makan karena kotor. Kedua anak itu pun memasang raut wajah kecewa. Dan menyalahkan satu sama lain. Melihat anaknya berseteru, sang ibu kemudian menghampiri mereka.

“Itulah akibatnya jika kalian bersifat tamak. Kalian tak akan mendapat apa-apa kecuali kekecewaan dan penyesalan. Coba tadi kalian mau saling mengalah dan berbagi serta tidak bersifat serakah, tentu kita semua masih dapat memakan kacang itu”. Kata sang ibu. Mendengar kata-kata sang ibu tersebut, kedua anak itu terdiam dan mulai menyadari kesalahan mereka selama ini. 

Hikmah yang dapat kita petik dari kisah ini adalah, keserakahan selalu menghasilkan perseteruan satu sama lain. Dan keserakahan selalu mendatangkan penyesalan di kemudian hari.

Di tulis oleh: Muhammad Rifai

Dongeng Raja Harimau Dan Kera | Dongeng Anak Terbaru

DONGENG RAJA HARIMAU DAN KERA - Setelah dirinya berhasil di kelabuhi oleh si kancil,harimau menjadi sangat dendam pada si kancil.
Tiap kali mengingat apa yang berani di lakukan si kancil padanya,hatinya menjadi terasa terbakar.
Dia pun berniat untuk membalas dendam pada si kancil.
Rupanya rasa marah dan gundah yang di rasakan rajanya di ketahui oleh serigala.
Maka serigala pun mencoba memberi saran pada harimau sang raja hutan. 
 

"Kenapa tak kita datangi ke alas purwa saja bos,tempat tinggalnya".kata serigala.
"Aku tak bisa ke sana,karena daerah itu adalah wilayah raja kong,si raja kera".kata harimau.
"Lho..?? Memangnya kenapa bos?Apakah si bos takut pada bangsa kera?Kan mereka bukan apa-apa di banding baginda raja loreng yang kuat".kata serigala mecoba menghasut.
"Jaga bicara mu,atau kau akan ku bikin bergedel serigala.!!
Masalahnya bukan takut atau tidak,tapi ini soal perjanjian yang telah di lakukan oleh leluhur ku dulu..".kata harimau.
"Perjanjian seperti apa bos?
Kok sampai-sampai begitu penting?".tanya serigala.
"Akan ku ceritakan pada mu,dengarkan baik-baik....

Dahulu kala harimau adalah satu-satunya raja hutan yang berkuasa.
Semua binatang tunduk dan patuh pada perintahnya.
Nenek moyang ku,king loreng generasi pertama adalah pemimpin yang bijak,tapi itu semua terjadi setelah ada perjanjian "bagi wilayah".
Sebenarnya..nenek moyang ku dulu adalah raja yang sangat di benci rakyatnya karena suka bertindak semena-mena.
Hingga pada suatu hari ketika king loreng generasi pertama jalan-jalan,dia terjebak dalam lumpur hisap.
Dia tak bisa lolos dari lumpur hisap itu dan perlahan-lahan dia mulai tenggelam di dalamnya.
Dia pun berteriak-teriak minta tolong,tapi tak ada satu pun binatang yang mau menolongnya.
Ahirnya..datanglah seekor kera di hadapanya.
Dan nenek moyang ku meminta tolong padanya,tapi kera itu tidak mau.
Raja harus mau memenuhi beberapa syarat sebagai ganti petolongan yang dia berikan,dan demi keselamatan nyawanya...
nenek moyang ku menyanggupinya.


Dan kera mengajukan tiga persyaratan..
Yang pertama,sang raja harus menjadi raja yang menyayangi rakyatya serta bersikap adil dan bijak sana.
Yang ke dua,harus ada pebentukan dewan
tinggi dan pembagian wilayah kepemerintahan.
Itu di lakukan sebagai alternatif pemegang kepemerintahan sementara ketika raja loreng mengingkari janjinya.

Dan yang ke tiga,bangsa harimau tidak boleh memangsa dan mengganggu bangsa kera dan anak cucunya.

Dan nenek moyang ku menyanggupi semua syarat dan perjanjian itu.
Bahkan nenek moyang ku menghadiahi bangsa kera dengan taring dan kuku yang kuat sebagai wujud keseriusan perjanjian itu.

Nah serigala,sekarang kau tahu alasan apa yang membuat ku tak bisa menyusul kancil ke tempat asalnya..".kata king loreng menutup ceritanya. 
 

''Oooo..rupanya begitu to bos? Yah,mau gimana lagi kalau sudah kaya gitu,berarti si bos harus lebih bersabar saja menunggu si kancil keluar dari sarangnya".kata serigala kemudian pamit undur diri.

Sementara harimau masih tetap terpaku di singgasananya,dan menunggu kesempatan untuk bisa bertemu kembali dengan si kancil..

*The End*

Dongeng Cerita si KANCIL Mencuri TIMUN

Cerita Dongeng si KancilMencuri Timun?Si kancil adalah binatang yang sangat cerdik, dia sangat pandai dan suka menolong hewan-hewan lainya. Mulai dari gagak, tikus, siput, kerbau, dan binatang-binatang lainya. Tapi dengan ketenaran serta kebaikan hatinya, banyak juga merasa iri dan diam-diam membenci si kancil. Salah satunya adalah monyet. Monyet di kenal sebagi hewan yang paling cerdas sebelum si kancil. Monyet dikenal juga sebagi hewan yang cukup cerdik sehingga dia bisa lolos dari berbagai bahaya, termasuk dari jebakan petani yang berusaha menangkapnya ketika si monyet mencuri buah timun milik pak tani. Dan ahirnya karena sifat irinya, si monyet ingin mengetes si kancil. Apakah dia mampu lolos dari berbagai bahaya seperti si monyet sehingga layak di juluki hewan yang paling cerdik di hutan?

Baca Juga:

√ Dongeng Anak | Sapi Dan Kerbau Bertukar Kulit

 

Ahirnya pada suatu hari, si monyet dating menemui si kancil. Dia berkata bahwa dia memiliki kebun mentimun yang sangat luas, dan berharap si kancil mau membantu memakanya karena dia tak kuat menghabiskanya sendiri. Mendengar tawaran baik dari monyet, si kancil tentu sangat senang tanpa memiliki perasaan curiga sedikitpun. Ahirnya berangkatlah mereka menuju kebun timun pak tani yang di akui monyet sebagai kebun miliknya. Monyet sangat yakin kali ini dia akan membuat si kancil tak bisa lolos dari jebakan, sedangkan dia pasti bisa lolos karena sudah berkali-kali dia mampu meloloskan diri dengan mudah berkat kegesitanya. Sesampainya di kebun, mereka berdua memakan buah timun sepuasnya. Si kancil yang tahunya itu kebun milik monyet, memakan buah timun dengan lahap dan sebanyak yang mampu dia makan. Setelah kenyang, mereka pulang. Begitu mereka lakukan setiap hari.

Sedangkan pak tani ketika melihat buah timun miliknya yang semakin hari semakin berkurang, membuat pak tani curiga dan berusaha mencari apa sebabnya. Tak sengaja dia melihat bekas jejak kancil yang ada di kebunya. “Berarti selama ini si kancil mencuri timun milik ku. Baiklah.. akan ku buat perangkap agar besok kancil itu bisa ku tangkap”. Piker pak tani yang mengira bahwa kancil mencuri timun miliknya. Pada keesokan harinya, seperti biasa si monyet dan kancil kembali ke kebun untuk memakan timun. Dan seperti hari-hari sebelumnya pula si kancil makan dengan lahapnya. Sementara si monyet hari ini juga makan dengan lahap. Karena dia berfikir selama ini tak ada perangkap atau pak tani yang berusaha menangkap mereka, berarti pak tani belum menyadari apa yang mereka lakukan. Tanpa mereka sadari, gerak gerik mereka di perhatikan pak tani dari balik semak-semak.
 

“Oooo.. ternyata kancil dan monyet bandel itu lagi.. kemarin Cuma monyet, sekarang membawa teman. Lihat saja, pokoknya salah satu dari dua hewan itu akan aku tangkap’. Kata pak tani dalam hati. Setelah beberapa lama, kancil dan monyet ahirnya kekenyangan. Merekapun menjadi merasa sangat mengantuk dan memutuskan untuk tidur sebentar. Tapi baru beberapa saat mereka terpejam, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh suara gaduh pak tani yang mengejar mereka sambil memukul-mukul kentongan sehingga membuat mereka kaget dan berlari tunggang langgang. Si kancil dengan gesitnya berlari melalui tiap semak belukar untuk mencari jalan masuk ke hutan. Sedangkan si monyet berusaha memanjat pohon dan melompat dari satu pohon ke pohon lainya. Tapi karean dia kekenyangan, menjadi kurang lincah dan tak mampu bergerak lebih gesit dari biasanya. Dengan mudahnya pak tani membidiknya dengan panah yang sudah di bubuhi dengan ramuan obat tidur. Sehingga ketika mengenai si monyet, monyet tersebut langsung terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri. Dan ahirnya, monyet yang iri hati itu di tangkap dan di bawa pulang oleh pak tani. Setelah kejadian itu, tak terdengar lagi bagaimana kabar si monyet dan juga tak pernah lagi muncul di dalam hutan. Maka, setiap perbuatan jahat pasti akan mendapat balasan yang buruk pula di kemudian hari seperti si monyet.
The End

Dongeng Si Lancang Kuning Cerita Rakyat dari Kampar Riau

Zaman dahulu kala di daerah kampar yang kini disebut Riau, hiduplah seorang janda miskin bersama seorang anaknya yang bernama si Lancing kuning. Dongeng si lancang sebagai berikut, kehidupan mereka cukup susah karena hanya bekerja sebagai buruh tani, sehingga sering kekurangan.
Hal tersebut membuat si Lancang bercita-cita ingin menjadi orang kaya ketika besar nanti. Waktupun berlalu, kini si Lancang sudah mulai tumbuh dan menjadi seorang pemuda belasan tahun. Dia meminta izin pada ibunya untuk pergi merantau, mencari kehidupan yang lebih layak. Dengan berat hati, ibunya meleps kepergian si lancang.

Baca Juga:

√ Dongeng Anak | Cerita Kancil dan siput


Akhirnya si lancing pergi ke negeri seberang dengan menumpang kapal para pedagang. Di negeri seberang, si lancing bekerja serabutan. Dia sangat rajin hingga saudagar yang menjadi tuanya sangat simpati padanya. Lambat laun, akhirnya si Lancang di nikahkan dengan salah seorang puteri saudagar itu. Tentu saja hal tersebut membuat derajat dan kehidupan si lancing menjadi terangkat. Kini si lancing sudah masuk dalam kategori orang kaya.

Usaha mertuanya kini dia yang menjalankan. Karena kerajinan dan keuletanya, usaha perdagangan yang dikelolanya kini berkembang pesat. Dan ketika mertuanya meninggal, dialah yang mewarisi sebagaian besar harta itu. Bertahun-tahun berlalu, kini si lancing menjadi suadagar yang cukup dikenal yang memiliki banyak kapal. Dia memiliki 7 orang isteri yang cantik-cantik. Hartanya melimpah, dan memiliki kedudukan yang tinggi di masyarakat.
Ternyata, harta dan kedudukan yang dimiliki membuat si Lancang lupa pada ibunya yang menungu di kampong halaman. Dia sudah lupa asal usulnya, dia sudah lupa bahwa dia masih memiliki seorang ibu yang hidup terlunta-lunta dan miskin. Hingga pada suatu hari ketika dia berlayar bersama 7 isterinya, kapal yang dia tumpangi singgah di daerah Kampar, yang tak lain adalah kampung halamanya. Banyak sekali penduduk yang dating untuk melihat kapal-kapal megah yang singgah di dermaga, tak terkecuali ibu si Lancang.

Melihat si lancing yang berdiri di geladak kapal, ibunya menjadi sangat gembira. Karena kini impian si lancing menjadi orang kaya sudah terkabul. Dan dia mengira si Lancang pulang untuk menemuinya. Langsung saja dia berlari naik ke geladak kapal dan langsung memeluk si Lancang. Si Lancang yang terkejut langsung menghempaskan wanita tua itu, namun dia tambah kaget ketika dia sadar bahwa wanita dengan pakaian compang-camping yang baru saja dia hempaskan adalah ibunya.
Karena malu pada 7 isterinya jika sampai tahu itu adalah ibunya, dia langsung menyuruh kelasi kapal untuk menyeret wanita tua itu keluar dari kapalnya. “ Kelasi.. bawa wanita tua ini pergi.. Aku tak mau kapal mewah ku dikotori oleh pengemis.. Aku tak kenal pengemis hina seperti dia”. Kata si Lancang. Mdndapat perlakuan buruk dari anak semata wayangnya, membuat wanita tua itu sakit hati. Sesampainya di rumah, dia mengambil Pusakanya yang berupa sebuah nyiur dan lesung penumbuk padi. Dia berdoa kepada yang maha kuasa, agar mau menghukum anak durhaka itu sambil memutar-mutar pusaka milinya. Do’anya terkabul. Tiba-tiba langit menjadi gelap, hujan lebat disertai badai turun. Petir dan Guntur saling bersautan. Kapal-kapal si Lancang diterjang badai hingga terbang berhamburan.

Baca Juga:

√ Dongeng Anak | Sapi Dan Kerbau Bertukar Kulit


Muatan kapal yang berupa kan sutera melayang-layang dan jatuh di daerah yang kini disebut Negeri Lipat Kain. Gongnya terbang dan terlempar di kawasan Kampar Kanan dan jatuh disebuah sungai yang kini dinamakan Sungai Gong. Tembikarnya terbang dan jatuh di daerah yang kini bernama Pasubilah. Dan tiang bendera kapal terbang dan jatuh disebuah danau, yang hingga kini ceritanya dinamakan Danau si Lancang.

Cerita Abu Nawas - Debat Kusir Tentang Ayam

Cerita Abu Nawas - Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barang siapa yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.
Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya hukuman yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, jawaban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.
Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta pertama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,
"Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?" "Telur." jawab peserta pertama.
"Apa alasannya?" tanya Baginda.
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.
"Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda.
Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. ia tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara.
Kemudian peserta kedua maju. la berkata,
"Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."
"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda.
"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila telur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami." kata peserta kedua dengan mantap.

Baca Juga:

√ Dongeng Anak | si Kancil Yang Usil Dan Pembohong Besar


"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bingung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.
Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;
"Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."
"Sebutkan alasanmu." kata Baginda.
"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina." kata peserta ketiga meyakinkan.
"Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada." kata Baginda memancing.
"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri." peserta ketiga berusaha menjelaskan.
"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?"
Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.
Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam."
"Coba terangkan secara logis." kata Baginda ingin tahu "Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam." kata Abu Nawas singkat. Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Baginda tidak nyanggah alasan Abu Nawas.

Creita Abu Nawas - Abu Nawas tidak berdosa!!

Kali ini tentang benarnya ucapan Abu Nawas yang diakui sendiri oleh raja Harun Ar Rasyid.
Baca kisahnya ya dan jangan lupa beri semangat kepada blog ini agar bisa menyajikan yang lebih baik.

Kisahnya.
Pada suatu waktu, ketika Raja Harun Ar Rasyid sedang menunaikan ibadah haji, tiba-tiba saja dia teringat akan Abu Nawas pada saat memasuki kota Kuffah.
Untuk memenuhi rasa kangennya, Baginda raja menyuruh para pengawalnya untuk mencari Abu Nawas sekaligus menghadapkan ke hadapannya.
Raja berpesan, nanti kalau sudah bertemu, tolong Abu Nawas diberi pakaian berwarna hitam dan celanan panjang yang nantinya diletakkan di atas kepala Abu Nawas.
Para pengawal bergegas melaksanakan perintah itu meskipun mereka berfikir bahwa ini adalah suatu permintaan yang aneh sekali. 
Setelah mencari ke segala penjuru kota, akhirnya Abu Nawas bisa ditemukan juga. Tak berapa lama kemudian Abu Nawas datang juga dengan pakaian hitam dan celanan panjang yang ditaruh di atas kepalanya.

Baca Juga:

√ Cerita Islami | Ahli Tukang Gembok Yang Jujur Dan Amanah


Setelah ada di hadapan raja, Abu Nawas berkata,
"Wahai Baginda, Amirul Mukminin, aku memohon kepada Allah SWT semoga Allah memberikan rezeki dan melapangkan anugerahNya kepada Tuanku," kata Abu Nawas.
"Ya, terima kasih, Amiin..." jawab Raja Harun Ar Rasyid.
Setelah kejadian itu, Raja Harun Ar Rasyid pergi meninggalkan kota Kuffah dan melanjutkan perjalanan. Banyak penduduk Kuffah yang terheran-heran dengan tingkah laku Abu Nawas itu. Dia malah mendoakan sang raja sambil menaruh celanan panjang di atas kepalanya.
"Wahai Abu Nawas, begitukah caranya engkau mendoakan Amirul Mukminin," tanya beberapa warga yang melihat kejadian itu.
"Diamlah wahai semua, Celakalah semua, tidak ada yang lebih disukai oleh Amirul Mukminin kecuali harta dan uang," jawab Abu Nawas dengan santainya.
Abu Nawas segera berlalu dari tempat itu.
Karena ada yang iri atau entah mencari muka di hadapan raja, maka ada salah seorang yang melaporkan kejadian itu tentang ucapan Abu Nawas yang mengatakan bahwa rajanya menyukai harta dan uang.
Betapa terkejutnya si pelapor ini dengan jawaban yang diucapkan oleh raja mereka.

Cerita Abu Nawas - Cerita Air Susu Yang Pemalu

Ahaa, selalu ada saja cara Abunawas agar tidak dimarahi Raja Harus Ar Rasyid. Ketika ia kepergok membawa botol berisi arak berwarna merah, sang raja menegurnya, namun Abunawas menyebut isi botol itu adalah air susu yang pemalu. 
Kisahnya.
Kecerdasan Abu Nawas benar-benar menghibur Raja Harun Ar Rasyid. 
Suatu saat sang raja terlihat murka melihat pekerjaan pengawal kerajaan yang selalu tidak beres. Setelah diselidiki, ternyata para pengawal itu suka mabuk-mabukan.
"Wahai pengawalku semua, sudah sering aku peringatkan agar engkau jangan mabuk-mabukan," ujar Raja Harun.
Para pengawal kerajaan terlihat begitu gemetar. Mereka tak berani menatap mata rajanya. Kepala mereka tertunduk sebagai pengakuan rasa bersalah.
"Ceritakan kepadaku, dari mana kalian mendapatkan arak-arak itu," tanya raja.

Raja Harun Murka.
Untuk beberapa saat, para pengawal tak mau mengaku juga. Namun, ketika Raja Harun membentak, akhirnya mereka mengaku juga.
"Abunawaslah yang membawa arak-arak itu ke istana, kami juga diajari mabuk-mabukan olehnya," ujar salah seorang pengawal.
"Jika demikian, cepat bawa Abunawas ke hadapanku, kalau tidak, kalian semua harus menerima hukuman dariku," ujar raja Harun.
Keesokan harinya berangkatlah beberapa pengawal kerajaan ke rumah Abu Nawas. Sesampainya di rumah sederhana Abunawas, mereka kemudian memberitahukan maksudnya.
"Bawalah botol ini ke hadapan raja dan katakan semua ini atas perintahku," uar salah satu peimpin pengawal itu.
"Tunggu dulu, dengan minuman arak ini, aku pasti akan dihukum oleh saja," kata Abunawas.
"Benar, tapi jika engkau berhasil lolos dari hukuman raja, aku akan memberimu sejumlah dinar," ucap pengawal itu.
"Lalu apa keuntunganmu dengan memberiku sejumlah dinar?" tanya Abunawas.
"Jika engkau lolos dari hukuman raja, maka kami semua juga akan lolos. Gunakanlah kecerdasanmu untuk mengelabuhi raja," jawab pengawal itu.
Akhirnya Abu Nawas bersedia menerima tugas itu. Dengan memegang sebotol arak berwarna merah, ia menemui Raja Harun.
"Wahai Abunawas, apa yang engkau pegang itu?" tanya raja Harun.




Baca Juga:

√ Cerita Rakyat | Si Tanduk Panjang (Sumatera Utara)




Susu yang Merah Merona.
Dengan gugup Abunawas menjawab,
"Ini susu Baginda, rasanya enak sekali," jawab Abunawas sekenanya.
"Bagaimana mungkin air susu berwarna merah, biasanya susu kan berwarna putih bersih," kata raja Harun keheranan sambil mengambil botol yang dipegang Abunawas.
"Betul Baginda, semula air susu ini berwarna putih bersih, saat melihat Baginda yang gagah rupawan, ia tersipu-sipu malu, dan menjadi merah merona," jawab Abu Nawas yang mencoba mengambil hari raja Harun dengan menyebutnya seorang rupawan.
Mendengar jawaban Abunawas, Baginda pun tertawa dan meninggalkannya sambil geleng-gelng kepala. Raja Harun sebenarnya tahu bahwa yang di dalam botol itu adalah arak, namun karena penyampaian Abu Nawas yang membanggakan hati, ia tidak memberikan hukuman kepada Abu Nawas.
"Baiklah, untuk kalian semua aku maafkan, akan tetapi jiika kalian ulangi lagi, maka hukumanya akan berlipat ganda," titah sanga Raja.
Akhirnya Raja Harun Ar Rasyid juga memberikan ampunan kepada para pengawal.
Abu Nawas juga mendapatkan hadiah sejumlah beberapa dinar dari para pengawal, karena telah berhasil melaksanakan misinya.

Cerita Abu Nawas - Abu Nawas tidak mau hadiah

Suatu ketika Abu Nawas dipanggil oleh Raja Harun Ar Rasyid di istana kerajaan dan terjadilah percakapan di antara keduanya. Rupanya kali ini Abu Nawas sedang memperingatkan rajanya perihal harta dunia yang tidak akan dibawa mati ke kuburan karena Abu Nawas mengetahui bahwa ia dipanggil karena ingin diikat sebagai saudara raja dengan tali ikatan hadiah. 
Sesampainya di istana kerajaan, Abu Nawas dengan santainya menegur langsung kepada Raja Harun tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Wahai Amirul Mukminin, bagaimana nanti jika Allah SWT menghadapkan Anda di hadapan-Nya, lalu meminta pertanggungjawaban Anda tentang lalat hitam, burung kenari dan kulit ari," kata Abunawas kepada Raja Harun.
Begitu mendengar penuturan Abunawas yang tiba-tiba itu, menyebabkan Raja Harun Ar Rasyid sedih, sehingga menangis tersedu-sedu. Melihat rajanya bersedih, salah seorang kepala pengawal segera bertindak dengan memarahi Abu Nawas.
"Wahai Abu Nawas, engkau diamlah, engkau telah menyakiti hati sanga Raja!" bentak kepala pengawal kerajaan kepada Abu Nawas.





Baca Juga:

√ Cerita Rakyat Dari Perancis | " Putri Sejati "



"Biarkan dia," kata Raja Harun.
"Sebenarnya yang merusak dan menyakiti itu Anda," kata Abu Nawas dengan berani.
"Begini Abu Nawas, saya ingin mengikat tali persaudaraan denganmu dengan pemberian fasilitas dan hadiah-hadiah," kata Raja Harun Ar Rasyid.
"Kembalikan saja semua harta dari tempat semula yang hendak paduka berikan kepada hamba," jawab Abu Nawas.
"Lalu bagiaman dengan kebutuhanmu?" tanya Raja Harun.
"Aku ingin Anda tidak melihatku dan akupun tidak melihat paduka. Ketahuilah wahai Amirul Mukminin, Aiman bin Nail dari Qudamah bin Abdullah al-Kalaby pernah berkata,
Aku telah melihat Rasululah SAW melempar jumrah Aqabah di atas ontanya yang kemerah-merahan, tanpa ada pukulan dan tidak pula dengan pengusiran," jawab Abu Nawas.
Setelah berkata demikian, Abu Nawas segera meninggalkan istana sambil bernyanyi.
 
Nyanyian Abu Nawas: 
Persiapanmu telah memenuhi bumi sepenuhnya
Hambamu mendekat dan sekarang apa?
Bukankah engkau bakal mati dalam kuburan?
Pewarismu mengelilingi, hartamu tak dapat engkau gunakan lagi.

Cerita Abu Nawas - Abu Nawas merayu Tuhan

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.
Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.
 
"Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" ujar orang yang pertama.
"Orang yang mengerjakan dosa kecil," jawab Abu Nawas.
"Mengapa begitu," kata orang pertama mengejar.
"Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah," ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.
Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, "Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" tanyanya.
"Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya," ujar Abu Nawas.
"Mengapa demikian?" tanya orang kedua lagi.
"Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi," ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.
Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. "Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?" tanyanya.
"Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama," ujar Abu Nawas.
"Mengapa bisa begitu?" tanya orang ktiga itu lagi.
"Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya," ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

Baca Juga:

√ Cerita Rakyat Dari Perancis | " Cinderella "




 
***
Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. "Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda," katanya tidak mengerti.
Abu Nawas tersenyum. "Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati," jawab Abu Nawas.
"Apakah tingkatan mata itu?" tanya si murid.
"Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya," jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.
"Lalu apakah tingkatan otak itu?" tanya si murid lagi.
"Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan," jawab Abu Nawas.
"Dan apakah tingkatan hati itu?" Tanya si murid lagi.
"Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT," jawab Abu Nawas sambil tersenyum.
Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.
"Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?" tanyanya.
"Mungkin," jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.
"Bagaimana caranya?" tanya si murid lagi.
"Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa," ujar Abu Nawas.
"Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru," ujar si murid antusias.
"Doa itu adalah, "Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi." (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).
Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

Cerita Abu Nawas - Abu Nawas Menghitung Kematian

Kecerdikan Abu Nawas memang sudah tak diragukan lagi, bahkan ketika raja Harun Ar-Rasyid menghadapi masalah, tak segan-segan Abu Nawas dipanggilnya untuk menyelesaikan maslah.
Nah, kali ini Abu Nawas mendapatkan tugas untuk menghitung kematian.
Bagaimana cara Abu Nawas menghitungnya?

Berikut Kisahnya.
Suatu hari, di negeri Seribu Satu Malam, Baghdad, digelarlah acara hajatan besar. Sang Raja Harun Ar-Rasyid pun berniat merayakan pesta ulang tahun kerajaan bersama-sama dengan seluruh rakyatnya. Pada hari yang telah ditunggu tiba, rakyat Baghdad dikumpulkan di depan pendapa istana.
Raja Harun sang penguasa berdiri dan berkata,
"Wahai rakyatku yang tercinta, hari ini kita mengadakan pesta ulang tahun kerajaan. Aku akan memberi hadiah kepada para fakir miskin, aku juga akan memberikan pengampunan kepada para tahanan di penjara dengan mengurangi hukuman menjadi setengah dari sisa hukumannya," seru baginda kepada rakyatnya.

Memberi Keringanan Hukuman pada Tahanan.
Mendengar ucapan sang raja, tentu saja rakyat Baghdad bersuka ria. Mereka segera berpesta bersama dan menyantap aneka makanan yang telah disediakan. Tak berapa lama kemudian, para pengawal istana membagi-bagikan hadiah kepada fakir miskin. 
Setelah dipastikan seluruh rakyatnya yang fakir miskin mendapatkan hadiah, raja pun memanggil para tahanan
Tahanan pertama yang mendapatkan kesempatan adalah bernama Sofyan (maaf bila ada kesamaan nama).
"Sofyan, berapa tahun hukumanmu?" tanya baginda.
"Dua tahun Baginda," jawab Sofyan.
"Sudah berapa tahun yang kamu jalani?" tanya baginda lagi.
"Satu tahun Baginda," jawab Sofyan.
"Kalau begitu, sisa hukumanmu yang satu tahun aku kurangi menjadi setengah tahun sehingga hukumanmu tinggal 6 bulan saja," tegas baginda.
Selanjutnya, dipanggillah Ali.
"Berapa tahun hukumanmu Ali?" tanya baginda.
Dengan nada yang sedih, Ali menjawab,
"Mohon ampun Baginda, hamba dihukum seumur hidup," jawab Ali.
Mendengar jawaban Ali tersebut, Baginda menjadi bingung harus menjawab apa untuk mengurangi hukuman Ali.
Di tengah kebingungannya, Raja yang terkenal bijaksana ini teringat dengan Abu Nawas. Akhirnya, dipanggillah Abu Nawas.
Tak berapa lama kemudian, Abu Nawas yang turut serta dalam pesta ulang tahun kerajaan menghampiri sang Raja yang sedang kebingungan itu.
"Abu Nawas, aku ada masalah mengenai hadiah pengampunan bagi Ali. Dia dihukum seumur hidup sedangkan aku berjanji akan memberikan pengampunan setengah dari sisa hukumannya. Padahal aku tidak tahu sampai umur berapa Ali akan hidup. Sekarang aku minta nasehatmu, bagaimana caranya memberi pengampunan kepada Ali dari sisa hukumannya," jelas Raja.
Mendengar penuturan rajanya, Abunawas pun ikut bingung. Dia berpikir, apa bisa mengurangi umur seseorang, padahal dia sendiri tidak tahu sampai kapan umurnya.
"Hamba minta waktu Baginda," ujar Abunawas.



Baca Juga:

√ Cerita Rakyat Nusantara | " Legenda Lutung Kasarung "







Abu Nawas Mendapat Sekantung Keping Emas.
Mendengar permintaan Abu Nawas, Raja pun akhirnya memberikan kesempatan kepada Abu Nawas untuk berpikir. Raja hanya memberi waktu sehari semalam saja, tidak boleh lebih. Jadi, besok pagi Abu Nawas harus memberikan jawabannya.
Sesampainya di rumah, Abu Nawas pun berpikir keras untuk menemukan pemecahan masalah tersebut. Dia tidak bisa tidur karena selalu kepikiran akan hal itu. Namun, selang beberapa waktu, tampaklah senyuman di bibir Abu Nawas, pertanda solusi telah ditemukan.
Abu Nawas pun malam itu segera masuk ke kamar untuk tidur dengan nyenyak.
Pada pagi-pagi sekali, Abu Nawas telah bangun.
Setelah mandi dan sarapan, dia pun pergi menghadap raja setelah berpamitan dengan istrinya.
"Hamba sudah mendapatkan cara untuk memecahkan masalah si Ali, Baginda. 
Begini Baginda, sebaiknya si Ali ini berada di luar penjara dan bisa bebas selama satu hari, lalu pada esoknya, dia dimasukkan lagi ke dalam penjara selama satu hari pula. Lusa juga demikian, sehari bebas, sehari dipenjara, begitu berlangsungterus selama umur si Ali itu," jelas Abu Nawas.

Baginda Raja tersenyum.
"Engkau memang pandai Abu Nawas. Kalau begitu, kamu juga akan aku beri hadiah, yaitu sekantung keping emas," ujar sang Raja.
Setelah itu, Abu Nawas pulang dengan wajah yang ceria.