Artikel Alat Musik Tradisional Kendang (Gendang)

Pengertian Alat Musik Tradisional Kendang (Gendang)
kendang (gendang) | photo : wikipedia
Penjelasan alat musik tradisional Kendang. Kendang, kendhang, atau biasa disebut juga dengan gendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara di pukul. Biasa dimainkan dengan tangan atau dengan alat pemukul gendang. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki gendang dengan ciri khas masing-masing.

Kendang juga merupakan salah satu instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama.

Jenis

Berikut jenis-jenis kendang :
  1. Kendang yang kecil disebut ketipung
  2. Kendang sedang disebut kendang ciblon/kebar.
  3. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih.
Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran, ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek.


Kendang kebanyakan dimainkan oleh para pemain gamelan profesional, yang sudah lama menyelami budaya Jawa. Kendang kebanyakan di mainkan sesuai naluri pengendang, sehingga bila dimainkan oleh satu orang denga orang lain maka akan berbeda nuansanya.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Maluku Beserta Gambarnya


Bahan dan Pembuatan gendang

Kendang yang baik biasanya terbuat dari bahan kayu nangka, kelapa atau cempedak. Bagian sisinya dilapisi kulit kerbau dan kambing. Kulit kerbau sering digunakan untuk bam (permukaan bagian yang memancarkan ketukan bernada rendah) sedangkan kulit kambing digunakan untuk chang (permukaan luar yang memancarkan ketukan bernada tinggi).

Terdapat tali pengikat kulit yang berbentuk "Y" atau tali rotan. Tali tersebut dapat dikencangkan atau dikendurkan untuk mengubah nada dasar. Untuk menaikkan nada suara dapat mengencangkan tarikan kulitnya.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kendang diakses tanggal 17 november 2014

Alat Musik Angklung Asal Masyarakat Sunda Jawa Barat

Pengertian Alat Musik Angklung Asal Masyarakat Sunda Jawa Barat
Angklung | photo : bandungtraveler
Penjelasan alat musik tradisional Angklung yang berasal dari masyarakat Sunda Jawa Barat. Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang terbuat dari bambu. Cara memainkannya cukup mudah hanya dengan menggoyangkannya. Bunyi yang dihasilkan disebabkan oleh benturan badan pipa bambu. Bunyi yang dihasilkan bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.

Dictionary of the Sunda Language karya Jonathan Rigg, yang diterbitkan pada tahun 1862 di Batavia, menuliskan bahwa angklung adalah alat musik yang terbuat dari pipa-pipa bambu, yang dipotong ujung-ujungnya, menyerupai pipa-pipa dalam suatu organ, dan diikat bersama dalam suatu bingkai, digetarkan untuk menghasilkan bunyi. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah Beserta Gambarnya



Asal-usul

Belum ditemukan petunjuk yang menyatakan sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Suku Baduy, yang merupakan masyarakat Sunda asli, menggunakan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi.

Bahan

Bambu yang digunakan sebagai bahan angklung adalah adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada yang dihasilkan berasal dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Fungsi

Masa kerajaan Sunda, angklung digunakan di antaranya sebagai penyemangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya dimainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.


Jenis Angklung

Angklung Kanekes

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di ladang.

Angklung Reyog

Angklung Reyog merupakan alat musik untuk mengiringi tarian reyog ponorogo di jawa timur. angklung Reyog memiliki khas dari segi suara yang sangat keras, memiliki dua nada serta bentuk yang lengkungan rotan yang menarik dan bentuknya tidak seperti angklung umumnya yang berbentuk kubus. Angklung ini memiliki hiasan benang berumbai-rumbai warna yang indah.

Angklung Banyuwangi

Angklung ini berbentuk seperi calung dengan nada budaya banyuwangi

Angklung Bali

Angklung bali memiliki bentuk dan nada yang khas bali.

Angklung Dogdog Lojor

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun. Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi.

Angklung Gubrag

Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan menempatkan ke lumbung.

Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut.

Angklung Padaeng

Angklung padaeng adalah angklung yang dikenalkan oleh Daeng Soetigna sejak sekitar tahun 1938. Terobosan pada angklung padaeng adalah digunakannya laras nada Diatonik yang sesuai dengan sistem musik barat. Dengan demikian, angklung kini dapat memainkan lagu-lagu internasional, dan juga dapat bermain dalam Ensembel dengan alat musik internasional lainnya.

Angklung Sarinande

Angklung sarinande adalah istilah untuk angklung padaeng yang hanya memakai nada bulat saja (tanpa nada kromatis) dengan nada dasar C. Unit kecil angklung sarinade berisi 8 angklung (nada Do Rendah sampai Do Tinggi), sementara sarinade plus berisi 13 angklung (nada Sol Rendah hingga Mi Tinggi).

Angklung Toel

Angklung toel diciptakan oleh Kang Yayan Udjo sekitar tahun 2008. Pada alat ini, ada rangka setinggi pinggang dengan beberapa angklung dijejer dengan posisi terbalik dan diberi karet. Untuk memainkannya, seorang pemain cukup men-toel angklung tersebut, dan angklung akan bergetar beberapa saat karena adanya karet.

Angklung Sri-Murni

Angklung ini merupakan gagasan Eko Mursito Budi yang khusus diciptakan untuk keperluan robot angklung. Sesuai namanya, satu angklung ini memakai dua atau lebih tabung suara yang nadanya sama, sehingga akan menghasilkan nada murni (mono-tonal). Ini berbeda dengan angklung padaeng yang multi-tonal. Dengan ide sederhana ini, robot dengan mudah memainkan kombinasi beberapa angklung secara simultan untuk menirukan efek angklung melodi maupun angklung akompanimen.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Maluku Beserta Gambarnya

 

Angklung solo

Angklung solo adalah konfigurasi dimana satu unit angklung melodi digantung pada suatu palang sehingga bisa dimainkan satu orang saja. Sesuai dengan konvensi nada diatonis, maka ada dua jajaran gantungan angklung, yang bawah berisi nada penuh, sedangkan yang atas berisi nada kromatis. Angklung Solo ini digagas oleh Yoes Roesadi tahun 1964, dan dimainkan bersama alat musik basanova dalam group yang menamakan diri Aruba (Alunan Rumpun Bambu). Sekitar tahun 1969, nama Aruba ini disesuaikan menjadi Arumba.

Teknik permainan angklung

festival angklung | photo : indonesiakreatif
Cara memainkan angklung cukup dibilang mudah karena tinggal memegang rangkanya pada salah satu tangan (biasanya tangan kiri) sehingga angklung tergantung bebas, sementara tangan lainnya (biasanya tangan kanan) menggoyangnya hingga berbunyi. Dalam hal ini, ada tiga teknik dasar menggoyang angklung:

1. Kurulung (getar), merupakan teknik paling umum dipakai, dimana tangan kanan memegang tabung dasar dan menggetarkan ke kiri-kanan berkali-kali selama nada ingin dimainkan.

2. Centok (sentak), adalah teknik dimana tabung dasar ditarik dengan cepat oleh jari ke telapak tangan kanan, sehingga angklung akan berbunyi sekali saja (stacato).

3. Tengkep, mirip seperti kurulung namun salah satu tabung ditahan tidak ikut bergetar. Pada angklung melodi, teknik ini menyebabkan angklung mengeluarka nada murni (satu nada melodi saja, tidak dua seperti biasanya). Sementara itu pada angklung akompanimen mayor, teknik ini digunakan untuk memainkan akord mayor (3 nada), sebab bila tidak ditengkep yang termainkan adalah akord dominan septim (4 nada).

Sementara itu untuk memainkan satu unit angklung guna membawakan suatu lagu, akan diperlukan banyak pemusik yang dipimpin oleh seorang konduktor. Pada setiap pemusik akan dibagikan satu hingga empat angklung dengan nada berbeda-beda.

Itulah penjelasan singkat mengenai alat musik tradisional angklung yang berasal dari Jawa Barat. Untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi Wikipedia Indonesia.

Sumber bacaan :

http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung diakses tanggal 17 november 2014

Alat Musik Tradisional Calung Asal Sunda Jawa Barat

Pengertian Alat Musik Tradisional Calung Asal Sunda Jawa Barat
Calung | photo : wisatalembang
Pengertian alat musik tradisional Calung asal Jawa Barat. Calung adalah alat musik yang hampir menyerupai angklung. Cara memainkannya dengan memukul batang dari ruas-ruas tabung bambu yang tersusun menurut tangga nada pentatonik (da-mi-na-ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan terbuat dari jenis bambu hitam, namun ada pula calung yang dibuat dari awi bambu yang berwarna putih.

Jenis

Calung rantay

1. Bentuk
Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 ruas bambu atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan yaitu calung indung dan calung anak/calung rincik.

2. Cara memainkan
Untuk memainkan alat musik ini dengan cara dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak "dudukan" khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

Baca Juga;

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah Beserta Gambarnya



Calung jinjing

1. Bentuk
calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing terdiri atas empat atau lima buah, seperti calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung bambu). Kelengkapan calung dalam perkembangannya dewasa ini ada yang hanya menggunakan calung kingking satu buah, panempas dua buah dan calung gonggong satu buah, tanpa menggunakan calung jongjrong.

2. Cara memainkannya
Memainkannya dengan cara dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antar lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek, dan solorok.

Itulah penjelasan singkat mengenai alat musik tradisional yang berasal dari masyarakat Sunda Jawa Barat. 

Sumber referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Calung diakses tanggal 18 november 2014

Artikel Rumah Adat NTT | Rumah Mbaru Niang Beserta Gambarnya

Berikut ini merupakan penjelasan mengenai rumah adat Nusa Tenggara Timur yaitu salah satu rumah adat dari 34 provinsi di Indonesia. Nusa Tenggara Timur adalah provinsi Indonesia yang berada di tenggara Indonesia. Provinsi ini memiliki beberapa pulau, yaitu pulau Flores, pulau Sumba, pulau Timor, pulau Alor, pulau Lembata, pulau Rote, pulau Sabu, pulau Adonara, pulau Solor, pulau Komodo dan pulau Palue. Ibukotanya terletak di Kupang, Timor Barat. Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 2 rumah adat yang unik dan menarik yaitu Mbaru Niang dan Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara.
Gambar rumah adat nusa tenggara timur

1.Mbaru Niang

Mbaru Niang adalah rumah adat yang berada di Wae Rebo, yaitu sebuah desa yang letaknya berada di pedalaman dan diarungi oleh pegunungan dan panorama hutan tropis lebat di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

perkampungan wae rebo

Rumah adat Mbaru Niang bentuknya seperti cone yang dibalik, yaitu kerucut menjulur ke bawah dan hampir menyentuh tanah. Strukturnya setinggi 5 lantai dengan tinggi sekitar 15 meter. Atap rumah adat Nusa Tenggara Timur ini diisi oleh daun lontar yang ditutupi ijuk atau ilalang dan kerangka atap terbuat dari bambu sedangkan pilar rumah menggunakan kayu worok yang besar dan kuat. Hebatnya rumah adat ini tidak memakai paku tetapi menggunakan tali rotan untuk mengikat konstruksi bangunan. Meski bangunannya tidak terlalu besar, setiap mbaru niang bisa diisi oleh enam sampai delapan keluarga.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Madura Beserta Gambarnya




rumah adat ntt

Setiap lantai rumah Mbaru Niang memiliki ruangan dengan fungsi yang berbeda beda. Secara berurutan tersusun dari lutur, lobo, lentar, lempa rae, dan terakhir hekang kode. Tingkat pertama disebut lutur atau tenda, biasa digunakan sebagai tempat hunian dan berkumpul dengan keluarga. Tingkat kedua adalah lobo atau loteng yang berfungsi untuk menaruh bahan makanan dan barang sehari-hari. Tingkat ketiga disebut lentar untuk menaruh benih-benih tanaman pangan yang digunakan untuk bercocok tanam, seperti benih jagung, padi, dan kacang-kacangan. Tingkat keempat disebut lempa rae yaitu ruangan untuk stok pangan apabila terjadi gagal panen atau hasil panen kurang berhasil akibat kekeringan, dan tingkat kelima disebut hekang kode untuk tempat menaruh sesajian persembahan kepada leluhur.


Mbaru niang di Wae Rebo merupakan rumah adat warisan nenek moyang ratusan tahun yang lalu yang diturunkan terus menerus kepada keturunannya. Banyak Mbaru Niang yang mengalami kerusakan karena untuk memperbaikinya membutuhkan biaya yang banyak. Sampai akhirnya seorang arsitek dari Jakarta, yaitu Yori Antar, dan kawan – kawannya yang sangat mengagumi rumah adat ini mengadakan gerakan untuk mengumpulkan dana bagi pelestarian dan perbaikan kembali rumah adat ini sehingga kini sudah berdiri 7 rumah kerucut mbaru niang yang nyaman untuk ditinggali dan bagus untuk dijadikan wisata.

rumah mbaru niang

2.Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara

Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara merupakan rumah adat yang berada di Desa Koanara, Kelimutu, Nusa Tenggara Timur. Seperti Mbaru Niang, Rumah adat ini juga memiliki karakteristik dan bentuk yang unik dan juga menarik karena desain atap yang khas yang terbuat dari ilalang dan hampir menyentuh tanah.

Rumah Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara

Ada tiga jenis rumah Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara, yaitu rumah baku, rumah tinggal dan lumbung padi. Rumah baku digunakan untuk menyimpan dan melestarikan tulang tengkorak milik leluhur dan sudah ada 13 keturunan yang tulang tengkoraknya dilestarikan di simpan di rumah ini. Kemudian rumah baku dengan atap yang seluruhnya menyentuh tanah berfungsi sebagai rumah penyimpanan hasil panen sawah. Sedangkan rumah dengan kepala kerbau yang disangkutkan di depan pintu rumah merupakan rumah hunian.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Sulawesi Tengah Beserta Gambarnya





Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara yang berfungsi sebagai lumbung padi berbentuk panggung dan persegi empat. Pada bagian dasar rumah terdapat jejeran tumpukan batu yang membuat rumah lebih tinggi dari tanah. Dari jauh, rumah ini seperti tidak memiliki pintu masuk.

Alat Musik Tradisional Kolintang Asal Minahasa

Pengertian Alat Musik Tradisional Kolintang Asal Minahasa
Kolintang/Kulintang | photo : alatmusiktradisional.com
Pengertian dan penjelasan alat musik tradisional Kolintang asal daerah Minahasa Sulawesi Utara. Kolintang biasa disebut juga kulintang. Kata Kolintang sendiri sebenarnya berasal dari bunyi yang dihasilkan oleh alat musik tersebut yakni Tong pada saat nada rendah, Ting waktu nada tinggi dan Tang ketika mengeluarkan nada tengah. Dahulu ketika masyarakat minahasa ingin memainkan kolintang mereka mereka mengucapkan “Maimo Kumolintang“ (Ayo kita ber TongTingTang) dari kebiasaan itulah alat musik ini diberinama Kolintang.

Sejarah

Awalnya alat musik kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus kedepan. Dengan berjalannya waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-kadang diganti dengan tali seperti arumba dari Jawa Barat. Sedangkan penggunaan peti sesonator dimulai sejak Pangeran Diponegoro berada di Minahasa (th.1830). Pada saat itu, konon peralatan gamelan dan gambang ikut dibawa oleh rombongannya.

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Minang Sumatra Barat Beserta Gambarnya


Fungsi

Dahulu kolintang dipakai dalam upacara-upacara ritual yang berhubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Namun masuknya agama kristen di Minahasa membuat alat musik ini tidak lagi digunakan dalam ritual adat tersebut.



Perkembangan

Kolintang mulai berkembang sesudah Perang Dunia II dan muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk (seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai pengiring dipakai alat-alat “string” seperti gitar, ukulele dan stringbas.
Tahun 1954 kolintang sudah dibuat  2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½ oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1 mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki suara), maupun penampilan.
Saat ini  Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.

Peralatan

Peralatan lengkap alat alat kolintang berjumlah 9 buah. Tetapi bagi kalangan professional, cukup dengan memainkan 6 buah alat sudah dapat memainkan secara lengkap. Kelengkapan alat musik kolintang sebagai berikut:

B => Bas   =  Loway

C => Cello = Cella

T => Tenor  1 = Karua, Tenor 2   = Karua rua

A=> Alto 1 = Uner, Alto 2 = Uner rua

U => Ukulele/Alto 3 =  Katelu

M => Melody 1  = Ina esa, Melody 2  = Ina rua,  Melody 3 = Ina taweng

SUSUNAN ALAT

Lengkap (9 pemain) :

Melody   –  Depan tengah

Bass      -   Belakang kiri

Cello      -   Belakang kanan

Alat yang lain tergantung lebar panggung (2 atau 3 baris) dengan memperhatikan fungsi alat (Tenor & Alto).

NADA NADA DASAR

Nada nada dalam alat kolintang sebagai berikut:
C   =    1    3    5          Cm     =       1    2    5
D   =    2    4    6          Dm     =       2    4    6
E   =    3    5    7          Em     =       3    5    7
F    =    4    6    1          Fm      =       4    5    1
G   =    5    7    2          Gm     =       5    6    2
A   =    6    1    3          Am     =       6    1    3
B   =    7    2    4          Bm     =       7    2    4

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Madura Beserta Gambarnya



CARA MEMEGANG PEMUKUL/ STICK KOLINTANG

Stick kolintang memiliki nomor nomor tersendiri dan umumnya memegang stick kolintang dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Stick no. 1 Selalu di tangan kiri

Stick no. 2 Di tangan kanan (antara ibu jari dengan telunjuk)

Stick no. 3 Di tangan kanan (antara jari tengah dengan jari manis) – agar pemukul no.2 dapat digerakkan dengan bebas mendekat dan menjauh dari no.3, sesuai dengan accord yang diinginkan. Dan cara memukul disesuaikan dengan ketukan dan irama yang diinginkan, dan setiap alat memiliki, ciri tertentu sesuai fungsi didalam mengiringi suatu lagu. Pada alat Bass dan alat Melody umumnya hanya menggunakan 2 stick, sehingga lebih mudah dan nyaman pada tangan.

Untuk lebih jelas mengenai alat musik kolintang ini anda dapat mengunjungi sumber referensi yang saya sertakan dibawah ini :

Sumber referensi :

http://alatmusiktradisional.com/kolintang-alat-musik-khas-minahasa.html diakses tanggal 18 november 2014

Saron Alat Musik Tradisional Daerah Jawa dan Bali

Pengertian Saron Alat Musik Tradisional Daerah Jawa dan Bali
Dari kiri-kanan; saron panerus, saron barung, dan demung, dari STSI Surakarta
photo : wikipedia
Penjelasan alat musik saron yang terdapat di daerah pulau Jawa dan Bali. Saron atau disebut dengan juga ricik merupakan salah satu bagian dari instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan. Satu set gamelan biasanya terdiri dari 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan slendro. Bunyi Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dan mempunyai ukuran fisik yang lebih kecil.

Cara Memainkan

Untuk memainkan saron dibutuhkan alat penabuh. Alat penabuh tersebut berbentuk seperti palu dan terbuat dari kayu. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya. Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan.

Baca Juga:

√ Kumpulan Nama Alat Musik Tradisional Indonesia Beserta Daerah Asalnya



Teknik ini disebut memathet

Memathet (kata dasar: pathet = pencet) adalah teknik yang digunakan dalam memainkan saron. Caranya sebagai berikut :

1. Tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh

2. Kemudian tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya.

Jenis

Berikut jenis-jenis saron :
  1. Saron panerus
  2. Saron barung
  3. Demung

Itulah penjelasan singkat mengenai alat musik Saron. Semoga bermanfaat.

Sumber referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Saron diakses tanggal 24 november 2014

Artikel Rumah Adat Kalimantan Utara | Baloy Mayo Beserta Gambarnya

Artikel ini akan menceritakan mengenai rumah adat Kalimantan utara yaitu rumah adat suku tidung yang dikenali dengan sebutan rumah Baloy Mayo disertai dengan penjelasan lengkapnya.
Provinsi Kalimantan Utara merupakan provinsi teranyar di tanah Indonesia yang berada di sisi utara Pulau Kalimantan. Didirikan tahun 2012 sebagai provinsi baru pecahan dari provinsi Kalimantan Timur dengan Tanjung Selor sebagai ibukota provinsi. Keunikan provinsi ini yaitu kebanyakan batas wilayahnya yang berbatasan dengan Negara Malaysia. Sebelah utara berbatasan dengan Sabah dan sebelah barat dengan Serawak yaitu bagian dari Negara Malaysia. Sedangkan sebelah timur berbatasan dengan Laut Sulawesi dan sebelah selatan dengan Provinsi Kalimantan Timur.
Rumah Adat Kalimantan Utara
Rumah adat Kalimantan Utara adalah Rumah Baloy Mayo, yaitu rumah adat atau umumnya disebut balai adat dari suku tidung, yaitu suku asli yang menempati wilayah Kalimantan utara. Rumah adat Baloy Mayo ini terdapat di kota Tarakan dan berada di kawasan wisata balai adat suku tidung. Di dalam kawasan ini terdapat replika beberapa bangunan yang mewakili rumah adat suku tidung dengan ukuran bangunan yang sedikit lebih kecil dari bangunan originalnya . Bangunan –bangunan yang menempati kawasan wisata rumah adat kalimantan utara ini adalah :

Baca Juga:

√ Lengkap Alat Musik Tradisional Indonesia dan Asal Daerahnya


1. Baloy Mayo
2. Lubung Kilong
3. Lubung Intamu
4. Rumah Keluarga Raja
5. Baloy Yaki
Denah Kawasan Wisata Baloy Adat Tidung

1. Rumah adat Baloy Mayo

Rumah Adat Baloy Mayo
Rumah adat Baloy Mayo atau sebutan lainnya yaitu Baley Amiril Pengiran Djamaloel Qiram (Baloy Mayo Djamaloel Qiram) ini dibangun tahun 2004 oleh H Mochtar Basry Idris selaku Kepala Adat Besar Dayak Tidung Kalimantan Timur dan peresmiannya dilakukan oleh Drs Yurnalis Ngayoh, MM (Plt Gubernur Kaltim) pada tanggal tahun 2006.
Peresmian Rumah Adat Tidung
Rumah Baloy ini berupa rumah panggung yang disesuaikan dengan kondisi alam dan geografisnya dimana terdapat banyak rawa dan sungai. Material utama rumah pun disesuaikan dengan kondisi alam sekitar, yaitu menggunakan kayu ulin, yang kuat, tahan lembab dan tak mudah lapuk bila terkena air. Posisi bangunannya mengarah ke arah utara sedangkan pintu utama mengarah ke selatan. Salah satu keunikan rumah baloy mayo ini yaitu bila dilihat dari atas, memiliki bentuk seperti lambang (+) atau positif. Berikut ini denah dari rumah Baloy Mayo.
Denah Rumah Adat Baloy Mayo
Pemanfaatan rumah adat ini bukanlah sebagai rumah huni, akan tetapi sebagai balai adat yaitu tempat untuk menghelat segala masalah atau kasus adat. Oleh karena itu pembagian ruangnya pun disesuaikan dengan kebutuhannya. Rumah Baloy Mayo terbagi menjadi empat ruang atau umumnya disebut dengan Ambir

a. Ambir Tengah

Ambir Tengah atau disebut  juga dengan Lamin Bantong merupakan sebuah ruangan yang berada di bagian depan hingga ketengah ruangan. Begitu memasuki ruangan depan kita akan disambut dengan sebuah gong besar. Dibelakang gong terdapat banyak kursi yang diletakkan saling berhadapan. Ruangan ini biasa difungsikan sebagai ruang para petinggi adat bersidang untuk memutuskan masalah, kasus atau perkara adat.
Rumah Adat Tidung Ambir Tengah

b. Ambir Kiri

Ambir Kiri disebut juga Alad Kait. Ruangan ini terletak dibagian kiri rumah. Ruangan terdiri dari kursi dan meja dan sebuah meja pendaftaran. Fungsi ruangan ini yaitu sebagai ruang penerimaan bagi penduduk yang hendak melaporkan masalah, kasus atau perkara adat.
Gambar Rumah adat Baloy Ambir Kiri

c. Ambir Kanan

Ambir Kanan disebut juga Ulad Kemangot. Ruangan ini terletak dibagian kanan rumah. Ruangan ini layaknya ruang tamu yang terdiri dari kursi dan meja karena sesuai dengan fungsinya ruangan ini digunakan sebagai tempat beristirahat atau tempat berdamai setelah masalah adat telah diselesaikan.
Gambar Rumah Adat Kalimantan Utara Ambir Kanan

d. Lamin Dalom

Lamin Dalom terletak dibagian belakang rumah dan berada tepat di depan ruang tengah. Lamin dalom difungsikan sebagai singgasana kepala adat besar dayang tidung. Posisinya lebih tinggi dari lantai rumah dan terdapat sebuah kursi besar dan mewah dibagian tengah untuk kepala adat yang dipayungi oleh ukiran-ukiran kayu yang sangat cantik, serta terdapat dua buah kursi yang saling berhadapan.
Gambar Rumah Adat Baloy Mayo Lamin Dalom
Rumah Baloy memiliki dua pintu masuk dan tangga yaitu depan dan belakang. Pada bagian belakang terdapat selasar tambahan di depan teras sehingga bagian belakang terlihat lebih panjang. Bagian belakang rumah Baloy ini langsung menghadap kearah kolam. Sedangkan jumlah jendelanya sangat banyak karena terdapat jendela setiap sisi rumah.
Jendela dan Pintu Rumah Baloy
Rumah Baloy dipenuhi oleh berbagai macam corak ukiran serta lambang yang membuat tampilannya semakin cantik. Mulai dari atap, lisplang, jendela, pintu, pagar, tiang dan tangga dipenuhi dengan berbagai ukiran cantik khas tradisional suku tidung.
Ukiran Rumah Baloy

2. Lubung Kilong

Lubung Kilong atau disebut juga Tamba Bayanginum berada tepat di hadapan bagian belakang rumah baloy dan terletak bagian tengah kolam berbentuk petak. Bangunan ini terdiri dari dua lantai serta bersifat terbuka atau bangunan tidak ditutupi dengan dinding maupun jendela dan hanya di batasi oleh pagar rendah. Lantai bawah berisi meja dan kursi. Sedangkan lantai atasnya biasanya tertutup untuk umum. Atap dan pagarnya seperti rumah baloy yang dipenuhi dengan lambang dan ukiran khas suku tidung. Sejatinya bangunan ini digunakan sebagai panggung untuk menampilkan seni tari khas suku Tidung yaitu tari Jepen. Namun pada prakteknya bangunan ini lebih banyak digunakan sebagai tempat menyaksikan pertunjukkan yang di gelar di depan lubung intamu.
Lubung Kilong

3. Lubung Intamu

Lubung intamu atau disebut juga Bayaintamu Apmachkuta Adji Radin Alam merupakan sebuah bangunan berbentuk rumah panggung besar yang berada di belakang Lubung Kilong. Bangunannya semi terbuka dimana hanya bagian samping yang ditutupi oleh dinding dan jendela sedangkan bagian depan serta belakangnya terbuka lebar. Bangunan ini sangat mewah, hal ini bisa dilihat dari atapnya yang tersusun dari tiga tumpuk mulai dari besar ke kecil. Seperti rumah baloy, bangunan ini juga dihiasi oleh lambang dan ukiran cantik khas adat tidung.

Baca Juga:

√ Kumpulan Nama Alat Musik Tradisional Indonesia Beserta Daerah Asalnya


Lubung Intamu
Lubung kilong ini difungsikan sebagai ruang pertemuan bagi masyarakat adat yang dihadiri oleh banyak orang, misalnya acara pelantikan atau pentabalan pemangku adat atau juga untuk menghelat acara musyawarah masyarakat seluruh Kalimantan. Bangunan ini juga biasa digunakan sebagai tempat menonton pertunjukkan seni tari yang digelar di bagian depan lubung intamu.
Lubung Intamu

4. Rumah Keluarga Raja

Menurut putra pendiri wisata rumah adat ini, bangunan ini merupakan miniatur rumah dari keluarga kerajaan dan putra-putri raja, antara lain Dayang Putri Sabah, Dayang Intan Djoera, AP Djamaloel Ail Qiram, dan Dayang Fatimah. Bangunan-bangunan ini berupa rumah panggung yang berjejer sebanyak 8 rumah dengan bentuk dan besar bangunan yang bervariasi
Rumah Keluarga Raja

5. Baloy Yaki

Baloy Yaki atau disebut juga dengan Balai Leluhur merupakan rumah panggung mini yang terdapat di bagian depan rumah baloy mayo. Posisinya berada di sebelah kanan dan kiri dan difungsikan pada masanya sebagai tempat untuk menyimpan sesaji dan wadah untuk berkomunikasi dengan para leluhur suku tidung. Baloy yaki ini berbentuk seperti rumah panggung pada umumnya dengan pintu dan jendela tanpa ditutup, pagar serta teras namun berukuran kecil. Atapnya berhiaskan lambang serta ukiran khas suku tidung.
Baloy Yaki

Artikel Rumah Adat NTB | Rumah Bale Lengkap Berserta Gambar


rumah bale ntb dusun sade

Penduduk Nusa Tenggara Barat terdiri dari suku Sasak, yaitu suku asli yang berasal dari Pulau Lombok, dan suku Bima serta suku Sumbawa yang berada di pulau Sumbawa. Masing-masing pulau memiliki rumah adatnya sendiri. Seperti pulau Sumbawa memiliki rumah adat bernama Dalam Loka Samawa dan Pulau Lombok memiliki rumah adat suku Sasak yang biasa disebut Bale. Berikut ini penjelasan mengenai masing-masing rumah adat di provinsi Nusa Tenggara Barat :

1. Dalam Loka Samawa

Rumah Adat NTB dalam loka samawa

Rumah istana Sumbawa atau Dalam Loka adalah rumah adat atau istana yang didirikan dan dikembangkan oleh pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III di Pulau Sumbawa, tepatnya di  kota Sumbawa Besar. Terdapat pengertian dari Dalam Loka itu sendiri, yaitu kata “Dalam yang memiliki arti istana atau rumah yang ada di dalam istana dan “Loka yang memiliki arti dunia atau juga tempat. Sehingga dapat disimpulkan pengertian Dalam Loka merupakan istana atau tempat hunian raja. Namun, penggunaan rumah adat Dalam Loka saat ini difungsikan untuk menyimpan benda atau artifak bersejarah milik Kabupaten Sumbawa.

Dalam Loka disusun oleh bangunan kembar yang disokong atau ditahan oleh 98 pilar kayu jati dan 1 pilar pendek (pilar guru) yang dibuat dari pohon cabe. Jumlah dari seluruh tiang penyokong adalah 99 tiang yang mewakili 99 sifat Allah dalam Al-Qur’an (Asmaul Husna). Di Dalam Loka ini terdapat ukiran-ukiran yang merupakan ukiran khas daerah Pulau Sumbawa atau disebut lutuengal yang digunakan untuk ornamen pada kayu bangunannya. Ukiran khas Pulau Sumbawa ini biasanya motif bunga dan juga motif daun-daunan.

Baca Juga:

√ Artikel Tumis Ale ale Kuliner Tradisional Dari Kalimantan Barat



motif ukiran khas pulau sumbawa

Istana dalam loka dibangun mengarah ke selatan yaitu ke Bukit Sampar dan alun-alun kota dan hanya memiliki satu pintu masuk utama melalui tangga depan dan pintu samping melalui tangga kecil. Tangga depan yang dimiliki Dalam Loka tidak seperti tangga pada umumnya, tangga ini berupa lantai kayu yang dimiringkan hingga menyentuh tanah dan lantai kayu tersebut ditempeli oleh potongan kayu sebagai penahan pijakan  Bala Rea atau graha besar adalah dua bangunan identik yang terdapat di dalam rumah adat Dalam Loka yang setiap bangunannya memiliki fungsi.

Tangga dalam loka pijakan bala rea

Pada bagian dalam bangunan terdapat beberapa ruangan yaitu, Lunyuk Agung, Lunyuk Mas, Ruang Dalam, dan Ruang Sidang. Lunyuk Agung berada pada bagian depan bangunan yang difungsikan untuk ruang bermusyawarah, pernikahan, pertemuan atau acara kerajaan. Lunyuk Mas adalah ruangan utama untuk permaisuri, istri para menteri dan staf penting kerajaan saat  upacara adat. Ruang Dalam sebelah barat disekat oleh kelambu yang digunakan untuk tempat sholat, di sebelah utara adalah kamar tidur permaisuri. Ruang Dalam sebelah timur memiliki empat kamar khusus untuk keturunan raja yang sudah menikah dan di sebelah utara adalah kamar pengasuh rumah tangga istana. Ruang sidang terletak di bagian belakang Bala Rea, namun pada malam harinya digunakan oleh para dayang sebagai kamar tidur. Sedangkan kamar mandi terletak di luar ruangan utama yang memanjang dari kamar raja hingga kamar permaisuri.

17 anak tangga rumah ntb


Dan yang terakhir adalah Bala Bulo yang memiliki dua tingkat dan berada di samping Lunyuk Mas. Tingkat pertama adalah tempat permainan keturunan raja dan tingkat kedua adalah tempat permaisuri dan istri para bangsawan saat menyaksikan pertunjukan di lapangan istana. Anak tangga menuju tingkat dua berjumlah 17 anak tangga. Jumlah tersebut mewakili  17 rukun sholat. Di luar komplek ini terdapat kebun istana (kaban alas), gapura atau tembok istana (bala buko), rumah jam (bala jam) dan tempat untuk lonceng istana. Lonceng pada istana ini ukurannya sangat besar dan berasal dari Belanda. Pada masa itu, lonceng ini dibunyikan oleh seorang petugas setiap waktu, sehingga seluruh penduduk dapat mengetahui waktu saat itu.

pilar rumah ntb

2. Rumah Bale

Bale adalah rumah adat dari suku Sasak yang berada di dusun Sade di desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Kehebatan dari dusun Sade adalah keteguhannya melestarikan rumah adat ini. Suku sasak memiliki aturan-aturan untuk membangun rumah, yaitu memilih waktu membangun dan juga lokasi pembangunan karena mereka mempercayai jika tidak mengikuti aturan akan mendapat nasib buruk saat menempati rumah. 

rumah Bale

Rumah adat suku Sasak di dusun Sade terdiri dari berbagai macam Bale yang semuanya beratap jerami atau alang –alang dan memiliki fungsi tersendiri, diantaranya Bale Lumbung, Bale Tani, Bale Jajar, Berugag/Sekepat, Sekenam, Bale Bonter, Bale Beleq Bencingah, Bale Tajuk, Bale Gunung Rate, Bale Balaq dan Bale Kodong.

a. Bale Lumbung

bale lumbung

Bale lumbung ditetapkan sebagai ciri khas rumah adat suku sasak dari pulau Lombok. Hal ini disebabkan bentuknya yang sangat unik dan menarik yaitu berupa rumah panggung dengan ujung atap yang runcing kemudian melebar sedikit lalu lurus ke bawah dan bagian bawahnya melebar kembali dengan jarak atap 1,5 - 2,0 meter dari tanah dan diameter 1,5 – 3,0 meter. Atap dan bubungannya dibuat dari jerami atau alang – alang, dindingnya terbuat dari anyaman bambu (bedek), lantainya menggunakan papan kayu dan bale lumbung ini disangga oleh empat tiang yang terbuat dari tanah dan  batu sebagai fondasi. Bagian atap dari bale lumbung merupakan suatu ruangan yang digunakan untuk menaruh padi hasil dari beberapa kepala keluarga. Bentuknya berupa rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari hasil panen rusak akibat banjir dan serangan tikus.

b. Bale Tani

Rumah ini dihuni oleh suku Sasak yang memiliki pekerjaan sebagai petani. Bale Tani ini memiliki satu pintu masuk yang kecil dan tanpa jendela. Atapnya terbuat dari alang – alang membentuk limasan yang memanjang hingga ujung atapnya (serambi) mendekati tanah. Dinding dan penyekat setiap ruangan terbuat dari anyaman bambu (bedek), sedangkan tiang penopang rumah terbuat dari batangan bambu dan selain itu bambu juga digunakan membuat paku.

bale tani

Bale Tani memiliki lantai yang terbuat dari kombinasi antara tanah liat, batu bata, abu jerami, getah pohon dan kotoran sapi atau kerbau. Kombinasi antara tanah liat dan kotoran ternak dilakukan karena dapat membuat lantai tanah mengeras, selain itu mereka terbiasa melapisi lantai dengan kotoran ternak untuk menjaga agar lantai tidak retak, rumah menjadi lebih hangat dan pengusir nyamuk. Walaupun dilapisi oleh kotoran ternak tetapi rumah tidak menjadi bau karena kotoran sudah dibakar dan dihaluskan terlebih dahulu.


Baca Juga:

√ Artikel Pisang Goreng Pontianak Jajanan Khas Dari Kalimantan Barat


Ruangan pada Bale Tani terdiri dari Bale Luar atau disebut juga Sesangkok (serambi) yang digunakan sebagai tempat menerima tamu dan kamar tidur dan juga Bale Dalam yang terbagi lagi menjadi Dalem Bale (kamar) dan Pawon (dapur). Dalem Bale ini khusus digunakan oleh anggota keluarga perempuan, diantaranya tempat menaruh harta berharga, ruang tidur anak gadis, ruang persalinan, dan ruang menaruh jenazah sebelum dikuburkan. Pada dapur terdapat dua tungku untuk memasak yang menempel pada lantai dan sempare yaitu wadah untuk menaruh bahan pangan dan peralatan dapur yang terbuat dari bambu.

dalem bale


Dalem Bale berada di atas Luar Bale sehingga untuk mencapai Dalem Bale terdapat tiga anak tangga. Tiga anak tangga ini memiliki arti Wetu Telu yaitu kepercayaan tiga waktu oleh suku sasak yang terdiri dari lahir, tumbuh dan mati. Saat Islam mulai memasuki Pulau Lombok, suku sasak melakukan sholat sesuai adat Wetu Telu yaitu sholat tiga waktu. Namun saat ini warga Sade telah menunaikan sholat lima waktu atau Wetu Lima yang ditandai dengan tambahan dua tangga pada bagian muka Bale Luar di Bale Tani. Setelah melewati tangga teratas terdapat satu pintu masuk untuk memasuki ruang Bale Dalem, cara membuka pintu dengan cara digeser yang disebut Lawang Kuri .

pintu dalem bale

c. Bale Jajar

bale jajar

Bale jajar adalah tempat hunian suku sasak dengan ekonomi menegah ke atas. Bentuknya serupa dengan Bale Tani, perbedaannya terletak pada ruang Dalem Bale yang lebih banyak. Bale Jajar memiliki dua Dalem Bale dan satu serambi (sesangkok) dan ditandai dengan adanya sambi yaitu tempat penyimpanan bahan makanan dan keperluan rumah tangga. Pada bagian depan Bale Jajar terdapat sekepat dan pada bagian belakangnya terdapat sekenam yang akan dijelaskan lebih lanjut di bagian berikutnya.

d. Berugaq atau Sekepat

Berugaq atau Sekepat

Berugaq sekepat berbentuk seperti saung, yaitu berupa panggung tanpa dinding, beratap alang – alang dan ditopang oleh empat tiang bambu membentuk segi empat.  Lantai terbuat dari papan kayu atau bilah bambu yang dianyam dengan tali pintal (Peppit)  dan tingginya 40–50 cm dari tanah dan terletak di bagian depan Bale Jajar.

Sekepat ini biasa digunakan untuk menerima tamu karena tradisi sasak tidak menerima sembarang orang ke dalam rumah. Bila pemilik rumah memiliki anak perempuan, sekepat dapat digunakan untuk menerima pemuda yang datang midang (melamar). Selain itu juga digunakan untuk berkumpul dan beristirahat setelah kerja di sawah.


e. Berugaq Sekenam


Berugaq Sekenam

Sekenam memiliki bentuk yang serupa dengan berugaq sekepat, perbedaannya terletak dari jumlah tiangnya yaitu sebanyak enam buah dan berada di bagian belakang rumah. Sekenam digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar tata krama, nilai-nilai budaya dan sebagai tempat pertemuan internal keluarga.

f. Bale Bonder

Bale Bonder atau disebut juga Gedeng Pengukuhan memiliki design segi empat bujur sangkar dan ditopang oleh tiang dengan jumlah minimum 9 tiang dan maksimum 18 tiang. Dindingnya terbuat dari anyaman bamboo dan bagian dalamnya seperti ruang serbaguna. Atapnya tidak memakai nock/sun, namun ujung atapnya menggunakan penutup berbentuk kopyah berwarna hitam.
Bale Bonder biasanya dihuni oleh pejabat desa atau dusun dan terletak di tengah pemukiman. Fungsinya yaitu sebagai tempat persidangan adat, seperti tempat diselesaikannya kasus pelanggaran hukum adat. Selain itu Bale Bonder digunakan sebagai tempat menaruh benda-benda bersejarah atau pusaka warisan keluarga. 

g. Bale Beleq Bencingah

Bale Beleq Bencingah biasa digunakan pada masa kerajaan dahulu. Fungsinya yaitu sebagai tempat acara-acara penting kerajaan, diantaranya pelantikan pejabat kerajaan, pengukuhan putra mahkota kerajaan dan para Kiai penghulu kerajaan, tempat penyimpanan benda pusaka kerajaan, dan sebagainya. 

h. Bale Tajuk

Bale tajuk memiliki bentuk segi lima dan ditopang oleh lima tiang . Bale Tajuk adalah sarana pendukung bagi rumah yang memiliki keluarga besar. Tempat ini digunakan sebagai tempat pertemuan keluarga besar dan pelatihan macapat takepan, untuk menambah wawasan dan tata krama.

i. Bale Gunung Rate dan Bale Balaq

Bale Gunung Rate dan bale Balaq merupakan jenis hunian yang didirikan pada daerah dengan kondisi geografis tertentu. Bale Gunung Rate didirikan oleh warga yang bermukim di lereng pegunungan sedangkan bale Balaq didirikan berupa rumah panggung untuk menghindari bencana banjir.

j. Bale Kodong

Bale Kodong memiliki ukurann yang sangat kecil dan rendah,  tingginya kira-kira seukuran orang dewasa. Bale ini umumnya digunakan oleh para pengantin baru atau orang lanjut usia yang tinggal bersama cucu-cucunya.